18 May 2011

April Rock With Hands All Over


               It was my most beloved april I ever passed! Yes, it was! Yup, banyak sekali hal-hal menyenangkan yang saya dapatkan di bulan April, dan saya sangat bersyukur atas semuanya. April memberi saya banyak kejutan. April juga memberi banyak warna dalam hidup saya. Alhamdulillah :). April mop, april fools, april love is all that I got! I'm happy with that! I'm really happy! Yeeeeaaay! :).
            Salah satu hal yang membuat april terasa menyenangkan bagi saya adalah keputusan untuk tidak melewatkan salah satu konser terbaik dari super band kelas dunia di tahun ini. “Maroon 5 Live In Concert” benar-benar telah membuat saya takjub. Saya bahkan  tak tahu lagi harus berkomentar apa dengan penampilan mereka yang nyaris tanpa cacat ketika bermain di Istora Senayan beberapa minggu yang lalu. Bagi saya, konser ini adalah konser paling JUARA dari beberapa konser yang pernah saya saksikan. Yeeessh..this is the BEST show from all the concerts that I have ever seen! Bahkan, bukan hanya konsernya saja yang bagus, pihak penyelenggara pun juga layak mendapatkan empat jempol atas semua yang telah dikerjakannya dengan baik. Saya benar-benar angkat topi untuk acara yang telah berjalan dengan sukses & lancar ini.
            Well, now let me tell you the story how I could finally see this coolest band ever! Pada awalnya, saya memang tertarik untuk melihat aksi panggung Maroon 5 ini sejak beredar kabar kalau mereka akan berkunjung ke Jakarta. Sejak saat itulah, saya segera mencatat di reminder handheld saya kapan penjualan tiket akan dibuka. Harapannya tentu saja tak ingin melewatkan kesempatan yang begitu baik ini.
            Sampai pada akhirnya, tibalah hari penjualan tiket (5 Desember 2010) yang sangat ditunggu-tunggu oleh ribuan orang di luar sana (termasuk juga saya), dimulai. Saya pun bersiap di depan komputer sejak pagi. Fokus di depan layar demi mendapatkan tiket yang diinginkan. Saya ingin membelinya secara online! Saya benar-benar tak ingin melewatkan konser ini. Satu, dua, tiga...hingga lima jam, ternyata saya gagal mengakses situs yang dimaksud. Saya gagal mendapatkan tiket yang akan dibeli. Emosi? Itu sudah pasti.

We got the festival! Yeeeaaay! :)

            Beruntunglah saya telah berkoordinasi dengan beberapa teman lain yang memiliki maksud dan tujuan yang sama. Sehingga, kami memutuskan siapapun yang berhasil masuk ke situs pemesanan tiket, maka dialah yang akan memesankan tiket untuk kami semua. Seluruh alat komunikasi kami berdayakan untuk saling bertukar informasi. Telepon rumah, handphone sampai twitter menjadi andalan kami untuk saling update berita. Cukup lama juga kami menunggu sampai seorang teman memberitahukan kalau dia berhasil masuk ke site si promotor. Saya pun spontan bertepuk tangan sendiri di depan monitor :).
            Akan tetapi, hambatan belum berhenti sampai disana. Saya yang ingin mendapatkan tiket kelas festival, rupanya harus mau mendapatkan apapun kelasnya mengingat penjualan tiket yang semakin gencar dan waktu yang semakin terbatas. Ya sudahlah, saya pun berusaha kompromi dengan hal tersebut. Padahal, alasan saya mendapatkan kelas festival karena saya tidak ingin setengah-setengah. Percuma sudah jauh-jauh ke Jakarta dengan ongkos transportasi dan pengorbanan waktu yang mahal kalau tidak dapat menikmati pertunjukan dengan jelas. Begitulah pikir saya saat itu. Tapi, apa mau dikata kalau seandainya memang belum menjadi rejeki :).
            Syukurlah, tak lama kemudian, teman saya kembali menelepon dan mengabarkan kalau proses pembelian tiket telah berhasil ia lakukan tepat setengah – satu jam sebelum penjualan tiket ditutup. Yeeeeaaaay...We got it! We got it! And yeessh baby yeessh..We got the festival! Well played, darla! Well played! Yeeeaaay!
            Saya pun kembali menghadap ke monitor, bukan lagi untuk mencoba memesan tiket, melainkan untuk shut down komputer karena saya baru sadar kalau perut ini belum terisi makanan apapun sejak pagi, hehehehe. Buying the ticket is done, baby! Just wait for April 27, 2011 then! Put your hands all over..put your hands all over.. *singing* :))).

*****

April 27, 2011

            Tibalah saat yang ditunggu-tunggu datang menghampiri. Pagi itu saya sudah bersiap-siap menuju airport untuk mengejar penerbangan pukul 08.45 WIB. Dengan hati riang, saya tak henti-hentinya bersenandung sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara. Thank God, semuanya berjalan on time. Konser rencananya dimulai pukul 20.00 WIB dan open gate pukul 18.00 WIB. Sementara, saya sudah sampai di Cengkareng sejak pukul 10.00 WIB. Ok, better off I go and kill the time! Mencari makan siang sembari ber-window shopping di sekitar Senayan rasanya bisa menjadi pilihan yang menarik untuk saat ini.
            Saking asiknya mencuci mata dari satu toko ke toko lain, tak terasa sore datang begitu saja. Dan saya baru sadar, hujan turun dengan lebatnya di luar manakala teman saya menelepon dan menawarkan diri untuk menjemput saya menuju ke tempat konser. Saya pun segera  mengiyakan dan  menunggunya di lobi salah satu mall. Tak lama, jemputan datang dan kami pun bergegas berangkat. Yes, waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB ketika kami sampai di Istora. Belum banyak yang datang. Open gate juga belum dilakukan. Akhirnya, kami memilih untuk berteduh sambil mengamati para calo yang menawarkan tiket dengan harga dua kali lipat lebih mahal. Wooooooowwww... :s
            Cukup lama menunggu, saya dan seorang teman memutuskan untuk berbagi tugas. Saya ikut antri di open gate, sementara teman saya antri di loket penukaran tiket online. Eng ing eng..open gate ternyata dibuka tepat jam 16.30 WIB. Saya berada pada antrian baris ke ±5-10 dari depan.  Seharusnya kami dapat segera masuk kalau saja tiket asli sudah di tangan. Sayangnya, petugas dari pihak promotor yang khusus menangani penukaran tiket online belum juga muncul. Saya dan teman pun terus berusaha menghubunginya. Yang bersangkutan rupanya tengah terjebak macet di kawasan Simprug. Okelah...setengah menghibur diri, saya meyakinkan diri saya sendiri kalau Simprug tidak jauh dari lokasi konser, jadi semacet apapun tentu tak lama lagi salah satu crew ini akan segera sampai. Hopefully...
            Pfiuuuuuh...dikarenakan yang ditunggu-tunggu belum juga datang, saya pun memutuskan mundur dari antrian di gate dan menghampiri teman saya untuk bersama-sama menjemput kemunculan salah satu crew yang memegang tiket kami tersebut. Percuma saja kalau saya memilih tetep keukeuh berada di antrian gate, sementara tiket resminya belum saya pegang. Sampai nenek-nenek pun saya tak akan berhasil masuk juga :D.
            Molor setengah jam dari yang dijanjikan, kami akhirnya menemukan crew yang dimaksud pada pukul 17.30 WIB. Kami pun segera menukar tiket online kami dan bergegas masuk menuju ke venue pertunjukan. Terus terang saya salut dengan cara kerja promotor ini. Ribuan penonton konser yang datang tidak membuat antrian untuk memasuki gate begitu berjubel. Apalagi sampai berdesak-desakan. Begitu open gate dimulai, para crew langsung membaginya menjadi 3 baris yang panjang lalu memisahnya menjadi beberapa kelompok. Antrian pun berangsur-angsur menyusut dalam waktu yang singkat. Nama yang besar rupanya sejalan dengan kualitas yang dimiliki. No wonder kalau mereka punya begitu banyak portofolio yang bagus. You did it well hey Java Musikindo!

get ready for rockin' roll ;)
          
         Yak..waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB ketika saya memasuki venue. Thank God, keberuntungan rupanya masih setia menemani saya di setiap konser yang saya tonton. Kali ini saya kembali berada di deretan depan untuk kelas festival. Bukan yang paling depan, tapi cukup lega untuk menyaksikan konser secara keseluruhan. Saya berada di sekitar baris ke 5 dari depan, dari 8000an penonton yang memenuhi gedung pertunjukan. Berada di posisi tengah (bukan di sayap kanan atau kiri panggung) juga membuat saya leluasa menyaksikan penampilan dari super band ini.
            Setelah berdiri cukup lama, waktu yang terasa melambat pada akhirnya sampai juga di pukul 20.00 WIB. Sesuai jadwal, Maroon 5 seharusnya sudah berada di atas panggung dan memainkan beberapa hitsnya. 5...10...sampai 15 menit dinanti-nanti, panggung masih juga sepi. Sejauh mata memandang, hanya ada alat-alat musik yang sudah disiapkan sebelumnya, serta crew dari Maroon 5 yang terlihat mondar-mandir memastikan kesiapan konser. Tampaknya saya bukan satu-satunya penonton yang sudah tidak sabar menunggu agar konser segera dimulai. Teriakan “Maroon 5” pun membahana dari 8000an penonton yang ingin menyaksikan aksi panggungnya. Yeeessh, we want Maroon 5! We want Maroon 5..Maroon 5! Maroon 5! :)

*****

Maroon 5 Live In Concert

            Tak lama kemudian (sekitar pukul 20.20 WIB), satu persatu personil Maroon 5 memasuki stage dan menggebrak pertunjukan dengan memainkan hits mereka yang bertajuk 'Misery'. Sambutan penonton pun mendadak heboh. Terlebih ketika sang vokalis, Adam Levine, muncul ke atas panggung di urutan terakhir. Penonton langsung berteriak-teriak histeris memanggil namanya dan ikut serta menyanyikan semua lagu yang dimainkan dalam konser tersebut.
            Konser ini sungguh luar biasa. Saya tak sedikitpun memalingkan muka dan mengalihkan perhatian saya dari stage. Adam Levine sungguh energik, suaranya keren dan interaktif. Sebagai frontman, dia telah menjalankan tugasnya dengan begitu baik. Seolah mengerti bagaimana cara memuaskan penontonnya, Adam Levine tampil dengan blocking panggung yang bagus. Sehingga, penonton yang berada di sayap kanan ataupun kiri panggung akan mendapatkan porsi yang sama dengan penonton yang di tengah ketika menyaksikan penampilannya. Secara fisik, tampang Adam Levine memang tidak perlu diperdebatkan lagi. Gantengnya mutlak, gayanya sungguh seksi. Belum lagi ketika dia sempat bergoyang dan berjoget norak sambil menjulurkan lidahnya. Rasanya saya ingin membungkusnya ke dalam karung saja agar bisa saya bawa pulang, hehehehe.
            Lebih dari itu, Adam Levine juga memiliki kualitas vokal yang sangat bagus. Saya sampai terbengong-bengong dibuatnya. Enam belas lagu dibawakannya secara stabil. Headvoice-nya berjalan dengan sempurna. Power yang dimiliki juga bagus. Tidak kurang, namun tidak juga berlebih. Pembagian produksi suara yang dikeluarkan dari hidung dan kepala dilakukannya dengan sangat baik. Sehingga, nada tinggi yang dihasilkan keluar dengan begitu bagusnya. Adam Levine juga memiliki kontrol yang bagus atas penguasaannya di atas panggung. Benar-benar paket yang komplit. Ganteng, seksi, bersuara merdu dan bermain gitar pula. Tuhaaan...mahluk apa gerangan yang saya tonton ini??? Hehehehehe.

a sexy man with his wonderful voice :)

            Berbeda dengan saya, seorang teman justru kagum dengan Jesse Carmichael. Keyboardist ini bisa dibilang kapten dari para pasukan Maroon 5. Dialah yang menjadi leader dari teman-temannya ketika konser berlangsung. Jesse Carmichael memegang kontrol atas permainan Maroon 5 di atas panggung. Dia yang memberikan komando atas musik yang akan dibawakan. Sekalinya ia meleset, maka akan meleset pulalah permainan super band ini.
            Seakan ingin membuktikan kepiawaiaannya dalam bermusik, tak ada satupun permainan mereka yang meleset. Masing-masing personil mengambil porsinya dengan baik. Cukup panjang kalau saya harus menceritakan satu-persatu kelebihan mereka dalam memainkan musik di konser tersebut. Yang jelas, mereka bermain musik dengan rapi, dengan tempo yang selalu terjaga dan aksi panggung yang tidak berlebihan, tetapi juga tak mengurangi kualitas yang disajikan kepada penggemarnya. Benar-benar sebuah pertunjukan yang bisa dikatakan nyaris sempurna. Belum lagi, kualitas sound dan taburan lighting yang memukau membuat suasana konser menjadi semakin 'hidup'. COOL! Good Job hey Adam Levine, Micky Madden, Jesse Carmichael, James Valentine, Matt Flynn and of course...Java Musikindo!

Mickey Madden on the stage

            Pertunjukan terus berjalan. Hits-hits favorit terus dilantunkan. Dari ±16 lagu yang dibawakan, tak ada satupun yang tidak diikuti oleh koor dari ribuan penonton yang menyaksikan. Misery, Wake Up Call, Give A Little More, Hands All Over, Harder To Breathe, This Love, The Sun, Never Gonna Leave This Bed, Secret, Won't Go Home Without You, Stutter, Shiver, Makes Me Wonder sampai Sunday Morning (in accoustic version), benar-benar ampuh menyihir penonton untuk ikut hanyut ke dalam atmosfer konser yang begitu luar biasa. Bukan hanya pandai dalam bermain musik, Maroon 5 juga lihai dalam mengambil hati para penonton. Beberapa celetukan Adam Levine dalam bahasa Indonesia seperti kata “Terima Kasih” dan “Saya Cinta Kamu” yang diucapkan di sela-sela konser membuat histeria penggemarnya menjadi semakin heboh. Benar-benar sebuah konser yang hebat. Konser yang menghibur!

taken from Adam Levine's twitter

taken from my smartphone only :)

            Last but not least, Saya pun pulang dengan hati yang luar biasa senangnya. "Maroon 5 Live In Concert" was really amazing! Awesome! 4 thumbs up for all that greatest dudes! Saya yakin, ribuan orang yang juga menyaksikan pertunjukan tersebut pasti merasa sama senangnya dengan saya. I'll tag this as one of my most favourite concert. Saya sangat menyukai pertunjukan ini, dan saya nggak akan kapok untuk menyaksikan aksi panggung mereka kembali. Sampai jumpa di konser-konser berikutnya, kawan! Semoga masih banyak lagi konser-konser yang sebagus atau bahkan lebih bagus dari ini. Amin! :)

Puas...puas...puaaasss!!! ;)

Thanks to:
Prita 'Pia' Pramarani, for being my partner in this concert.
Prita 'Pia' Pramarani's sister & brother, yang sudi kiranya membukakan pintu tengah malam dan mengijinkan saya beristirahat dirumahnya :).
Mbak Nirmala (Java Musikindo), yang mengijinkan kami menukar tiket tanpa fotokopi ID.
Fina 'Momo' Pratiwi, yang sudah mencarikan saya tiket penerbangan murah untuk menonton konser ini.

17 May 2011

Harmony Under One Nation With 'Maria'


                   Sempat terpikir untuk absen di tahun ini, rupanya saya belum benar-benar rela ingin melewatkan Java Jazz Festival begitu saja. Mendadak saya berubah pikiran dan memutuskan membeli tiket pertunjukannya. Untuk kali ini, saya masih setia dengan daily ticket di hari Sabtu dikarenakan alasan pekerjaan. Maklum, ijin kantor saat itu agak ribet dan saya terlalu malas untuk mencobanya. Someday...I wish I could enjoy this show for 3 days in a row! Amen! :)
                   Berbekal tiket yang telah saya beli di “Disc Tarra”, saya berangkat dari Surabaya menuju Jakarta dengan pesawat pagi. Sesuai agenda, sesampainya di Jakarta saya segera memenuhi janji dengan seorang teman disana untuk makan siang terlebih dahulu. Selanjutnya, kami berdua akan berangkat bersama teman-teman lain menuju ke Jakarta International Expo (JIE) Kemayoran, tempat dimana Java Jazz International Festival 2011 dilangsungkan.
                  Bersama seorang teman ini, saya menikmati makan siang dengan begitu asiknya, dengan obrolan yang beraneka ragam topiknya. Dari urusan pekerjaan sampai nostalgia masa-masa kuliah. It's not that easy for us just to forget our amazing times in college, isn't it? :).
                 Seusainya menuntaskan makan siang tersebut, saya dan teman saya segera beranjak meninggalkan Grand Indonesia lalu meluncur ke kawasan Slipi untuk menjemput teman-teman lain. Ok, pasukan lengkap, semua siap, dan kami pun berangkat! Yuhuuuy... :).
                 Damn...gerimis mengundang! Arus lalu lintas mendadak berstatus padat merayap. Ya sudah! Saya pasrah! Saya hanya bisa berharap agar saya masih bisa mengejar pertunjukan awal dari Sondre Lerche, salah satu musisi yang mengisi Java Jazz Festival di tahun ini. Sesuai jadwal, Mr. Lerche tampil sekitar pukul 16.00 WIB. Hmmmm..semoga saya masih sempat menyaksikannya.
                Setelah cukup lama berharap-harap cemas, akhirnya saya dan teman-teman saya sampai juga di tempat pertunjukan. Tanpa membuang banyak waktu, saya langsung menuju venue dimana Sondre Lerche tampil saat itu. Not bad...saya hanya melewatkan setengah lagu pertama. Sepertinya saya belum begitu terlambat. Thank God!
               Dibuka dengan “Two Way Monologue”, Sondre memilih untuk tampil secara akustik. Yupe...there's only Sondre and his guitar on the stage. Kepiawaiannya dalam memainkan alat musik dan berolah vokal bisa dibilang bagus. Hanya saja, saya merasa aksi panggungnya lama-kelamaan menjadi sedikit monoton. Entah disebabkan karena dia memilih untuk tampil secara akustik atau memang saya yang tidak mendapatkan 'chemistry' dari aksinya saat itu :). Menurut saya, bisa jadi akan lain ceritanya kalau Sondre memilih tampil secara full band.
              Mengalir dengan hits andalan dari keenam albumnya, Sondre sempat membawakan “Say It All”, “Let My Love Open The Door”, “Love You” dan beberapa lagu lain dengan apik. Tak salah kalau ia pernah menjadi bagian dari “Top 50” majalah Rolling Stone :).
Sondre Lerche, "The Guitar Hero" on JJF 2011

               Puas melihat aksi Sondre Lerche, saya dan teman-teman kembali berkumpul di meeting point yang telah disepakati. Selanjutnya, kami memilih menikmati jajanan terlebih dulu untuk me-recharge energi yang akan digunakan untuk berdiri, bergoyang dan bernyanyi nantinya :). Sayang sungguh sayang, ketika memutuskan untuk beristirahat sejenak ini, saya justru kebagian apes. Tiket special show saya tanpa sengaja terbuang oleh petugas kebersihan gedung. Tiket tersebut hilang setelah diletakkan oleh teman saya di satu tempat. Sebelumnya, saya memang menitipkan tiket tersebut kepada salah seorang teman ketika mendapatkan giliran untuk menjadi juru foto mereka :).
               Segera setelah menyadari hilangnya tiket ini, saya langsung menuju ke pos “Ticket Box” untuk mencari tahu bagaimana caranya saya bisa mendapatkan tiket saya kembali. Tak ada jawaban yang memuaskan dari “Ticket Box”. Saya pun beralih ke pos “Informasi” dan hasilnya juga nihil. Baiklah, kali ini saatnya saya coba mengadu ke pos lain yang masih berhubungan dengan urusan tiket (maaf, saya lupa nama posnya!). Disana saya menceritakan kronologi kejadian, berbicara panjang lebar dengan pihak panitia, dan mendapatkan pernyataan bahwa panitia tidak bisa menggantikan tiket yang hilang tersebut dengan alasan adanya kemungkinan orang lain telah menemukan dan menggunakan kode serta barcode tiket untuk masuk ke hall pertunjukan. How Come? Special show masih akan berlangsung pukul 22.30 WIB nanti. Masih sekitar 3-4 jam lagi. Oooh, come on..hall tak mungkin dibuka seawal ini. Spontan saya tantang panitia untuk memberikan tiket baru dengan kode serta barcode yang sama bilamana tiket tersebut memang murni terbuang. Panitia hanya bisa diam. And yeessh...they just gimme a shit!
                Karena merasa yakin kalau tiket belum terpakai, saya pun menghubungi Disc Tarra, menjelaskan secara singkat kronologi kejadian dan menyebutkan data diri saya agar bisa mengetahui kode serta barcode dari tiket yang telah saya beli. Setelah mendapatkan nomornya, saya meminta panitia melakukan availability checking atas tiket tersebut. Beragam jenis identitas diri juga sudah saya tunjukkan kepada mereka agar mereka yakin kalau saya benar-benar kehilangan tiket.
                See, panitia menyatakan kalau tiket saya yang hilang ternyata masih available. Belum ada yang memakainya. Sayang, saat itu juga panitia memberitahukan bahwa saya sendiri pun tetap tak bisa memakainya. Mereka keukeuh menolak untuk mengganti tiket saya. Yeeeaaah...how lucky I was at that time, babe! If only I could kick them in the ass, huh?! *ups* :D
                Belum juga menyerah, saya berlari menuju ke Committee Room. Tampak Peter F Gontha dan beberapa partnernya disana. Sepertinya sedang ada rapat kecil di ruangan itu. Saya pun menjadi agak maju-mundur juga ketika akan memasuki tempat ini. Beruntunglah salah satu orang di ruangan tersebut memutuskan untuk keluar dan menemui saya. Dengan lancar saya jelaskan semua kejadian yang telah menimpa saya. And guess what? Mereka menyarankan agar saya melaporkan dan mengurus semuanya ke pos yang sama. Oh well, I'll just follow your suggestion if hell is already opened, Sir! I'll put them there! Saya tidak bisa membayangkan, apa jadinya kalau yang kehilangan tiket adalah penonton yang sudah jauh-jauh datang dari negeri seberang. The committee have to think about this possibility. They should get the best solution for this!
                 I am giving up! Whiteflag! Lemas sudah saya rasanya. Saya malas meneruskannya lagi. Saya tak mau membuang waktu lebih banyak lagi hanya untuk mengurus tiket ini. Entah sudah berapa banyak pertunjukan yang saya lewatkan malam ini. Sudahlah, lebih baik saya mencari calo dan membeli lagi tiket special show hari ini. And...surprise! Dari calo saya mendapatkan harga tiket yang sama dengan tiket yang saya beli sebelumnya. Yak...tidak sedikitpun lebih mahal! Thank God!

pictures which led me to my bad luck ;p

                Ok...sekarang saatnya saya kembali mengalihkan perhatian pada acara ini. Sesuai rundown, Santana akan tampil pada pukul 22.15 WIB. Artinya, masih ada 1-2 jam lagi untuk menikmati beberapa pertunjukan dari musisi lain sebelum special show dimulai. Kembali saya perhatikan rundown. Tak lama kemudian, saya menuju hall dimana Kahitna sedang tampil di jam itu. Selain rindu melihat aksi panggungnya, letak pertunjukan Kahitna juga tidak jauh dari hall dimana Santana akan bermain nantinya. Jadi, ketika tiba saatnya Santana tampil, saya bisa dengan cepat mengambil tempat antrian :).
                 Tapi sayang sungguh sayang, niat saya untuk menikmati penampilan Kahitna rupanya sudah cukup terlambat. Hall penuh sesak. Mau tak mau, saya hanya bisa melihat pertunjukan dari belakang, tepat di samping pintu keluar hall tersebut. Saya pun tak ingin berlama-lama disana. Karenanya, bergeraklah saya menuju ke hall sebelah, Hall D, tempat dimana Santana dijadwalkan akan bermain. Hmmm..masih sepi disana. Antrian juga belum dimulai. Ok...saatnya saya kembali berkeliling mencari pertunjukan lain untuk dinikmati.
                 Tepat di seberang hall, saya melihat ada yang tengah bernyanyi di sana. Tampangnya belum familiar bagi saya. Samar terdengar, suara si penyanyi sepertinya patut diperhitungkan. Mendekatlah saya kesana. Ketika sampai di bibir panggung, si penyanyi yang dikenal dengan nama Raisha tengah bersiap memainkan "Somewhere Over The Rainbow" hanya dengan bertemankan dentingan piano. Astaga, suaranya bagus! Range vokalnya lebar sekali. Dinamis. Setiap perubahan nada rendah ke tinggi ataupun sebaliknya, mampu ia bawakan dengan sangat baik. Pada akhirnya, "Somewhere Over The Rainbow" pun dirampungkannya secara apik. Applause for you hey Raisha :).
                 Selesai membawakan lagu dari penyanyi lain, berikutnya Raisha membawakan lagu miliknya sendiri yang berjudul 'Serba Salah'. Sayang, saya merasa hits andalannya ini justru kurang nendang. Vokal Raisha yang begitu bagus kurang dieksplor di lagu ini. Apakah karena lagunya sendiri yang kurang bisa di buat 'macam-macam', saya juga tak mengerti. Yang jelas, yang saya tahu Raisha lebih dari itu. Kualitas suaranya justru lebih terlihat ketika ia membawakan lagu sebelumnya. Serba Salah yang telah didendangkannya membuat kualitas vokalnya terlihat biasa-biasa saja.
                  Menurut saya, pemilihan lagu ini patut menjadi perhatian bagi Raisha. Kemampuan olah vokalnya merupakan salah satu faktor penting yang bisa menjadi pemicu agar penikmat musik 'menoleh' dan mengenal siapa Raisha. Sayang sungguh disayang. She holds that quality! She just need to show her great voice optimally and the world will be her own!
                  Usai menikmati pertunjukan dari Raisha, perhatian saya kembali beralih ke Hall D, tempat dimana Santana akan tampil. Ups, rupanya sudah banyak sekali orang yang berbaris disana. Segera saja saya memutuskan untuk bergabung ke dalam deretan manusia tersebut. Antriannya sungguh panjang. Benar-benar panjang. Kalau begini caranya, saya tak terlalu berharap bisa mendapatkan posisi yang bagus ketika menikmati penampilan Santana nantinya. Bahkan, karena saking panjangnya, seorang teman membatalkan begitu saja niatnya untuk menikmati salah satu suguhan special show di Java Jazz tahun ini. Hmmm...
                  Lama berdiri di dalam antrian, sampailah pada giliran saya untuk menunjukkan tiket masuk kepada panitia. Setelahnya, saya langsung saja berlari menuju ke dalam gedung pertunjukan. Wooow...ribuan manusia sudah duduk-duduk manis di lantai. Perlahan namun pasti, saya melipir mencari tempat yang sekiranya nyaman bagi saya untuk menikmati pertunjukan. Syukurlah nasib baik masih setia berpihak kepada saya. Saya berada di barisan paling depan, tepat di sayap kanan panggung. Ok, here I come...ready for enjoying the show tonite!
                   Selang beberapa waktu, Santana muncul dan membuka pertunjukan malam itu dengan musik khasnya yang memiliki sentuhan blues & latin yang begitu kuat. Disambung dengan “Maria Maria”, Santana membuat lautan manusia yang menikmati pertunjukkannya tak tahan untuk tidak ikut bergoyang dan larut ke dalam irama musiknya. Permainan melodi Opa Carlos (Carlos Augusto Alves Santana) sungguh memukau. Didukung dengan penampilannya yang terkesan cool dan bersahaja, Opa menunjukkan kemampuan bermusiknya yang begitu luar biasa. Namun, secara pribadi saya merasa permainan melodi Opa Carlos tidaklah se'kaya' biasanya, seperti halnya yang saya lihat di beberapa videonya.

Santana on the stage

                    Saya juga berpendapat kalau Opa kurang menguasai panggung saat itu. Sebagai lakon utama di “Santana”, Opa terkesan kurang begitu muncul di pertunjukannya kali ini. Opa tidak banyak melakukan blocking. Terkadang, Opa juga mundur ke belakang dan bermain di samping posisi drummer. Padahal, dialah superstar yang ditungu-tungggu penonton untuk 'dilihat' dan dinikmati penampilannya. Ooooh, over here Opa..over here, please... :). Blocking panggung Opa yang minim ini jelas tidak menguntungkan saya yang menyaksikannya dari sayap kanan panggung. Opa Carlos lebih banyak bermain di posisi awalnya yang berada di sayap kiri panggung.
                    Tak sekedar bermain musik, Santana juga menyelipkan pesan-pesan damai yang begitu bagus di sela-sela penampilannya. Salah satu yang masih membekas di ingatan saya adalah bagaimana Carlos Santana menyampaikan sebuah pesan tentang persatuan. Pas sekali dengan tema yang dibawa oleh Java Jazz Festival tahun ini, yaitu “Harmony Under One Nation” :).
                     Lewat pesannya tersebut, Opa mengungkapkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar dari sebuah peperangan. Sebaliknya, betapa banyak yang akan kita dapat kalau kita bisa bersatu dalam sebuah perdamaian. Pesan yang luar biasa keren! Spontan tepuk tangan penonton pun membahana di gedung pertunjukan tersebut. Salah satunya tentu saja berasal dari tangan saya :).

Peace is the message that they bring :)

                      Tuntas menikmati penampilan Santana, kembali saya membaca rundown acara. Rupanya ada satu lagi pertunjukan yang bisa saya kejar. Yup, Maliq n d'Essentials tengah bermain di hall sebelah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, penampilan Maliq n d'Essentials ini selalu saja dipenuhi oleh banyak penonton. Padahal, saat itu Maliq n d'Essentials memulai pertunjukannya sekitar pukul 00.30 WIB. Wow!
                      Tak jauh berbeda dengan penampilan-penampilan di tahun sebelumnya, Maliq n d'Essentials bermain dengan bagus dan menarik. Tetapi, mengingat saya beberapa kali melihat pertunjukannya, baik di Java Jazz maupun di event-event yang lain, saya merasa sudah waktunya Angga dan kawan-kawan mulai berpikir untuk banyak merombak formasi dan koreografi yang mereka bawakan di atas panggung agar tidak terkesan 'itu-itu saja'. Begitu juga dengan susunan song's list-nya. Bukan hal yang mudah memang, tapi refreshment sepertinya sudah saatnya untuk dilakukan. For the sake of their own goodness, of course! :). Overall, kualitas Maliq n d'Essentials yang ditunjukkannya di Java Jazz tahun ini bagi saya masih saja keren. Two thumbs up!
                      Saya pun pada akhirnya mengakhiri Java Jazz tour tahun ini dengan perasaan yang campur aduk. Excited, kesal, capek, tapi juga senang. Next, semoga saya masih diberikan kesempatan untuk menikmati Java Jazz International Festival di tahun berikutnya dengan suguhan yang lebih menarik, dari musisi-musisi yang luar biasa, dan tak lupa dengan kualitas event yang lebih bagus tentunya :). Till we meet again hey Java Jazz International Festival 2012. Bravo! :)

07 December 2010

A Journey For Rewarding Me, Myself and I

                    Tahun baru Masehi memang sudah di depan mata :). Akan tetapi, saya belum memiliki rencana apa-apa hingga saat ini. Resolusi pun juga belum saya bikin. Hanya sebagian kecil saja yang sudah tercatat di kepala saya :). Selain dikarenakan awal tahun baru esok ini menurut saya hari-nya tidak “cantik” (kalau saja tahun baru 2011 jatuh pada hari Jumat :p), saya juga tidak terbiasa membuat perencanaan khusus terkait perayaannya sendiri. Kalau ada teman yang mengajak untuk merayakan ya saya ikut (jika tidak berhalangan), dan kalau tidak ada acara pun...berdiam diri di rumah saja sudah cukup bagi saya :).

 Still don't have any plan for this :)

            Berbeda dengan persiapan tahun baru yang cenderung adem ayem. Saya justru sudah menyiapkan hadiah ulang tahun saya dengan baik. Saya sudah sangat siap menyambut datangnya bulan kelahiran saya itu :). Atas hadiah yang telah saya persiapkan, saya lebih setuju menyebutnya sebagai reward yang saya dedikasikan kepada diri saya sendiri :).
            Sejujurnya, hadiah ini selalu saya persiapkan setiap tahunnya. Saya merasa  sudah sepantasnya saya “memanjakan diri” sendiri, setidaknya sekali dalam setahun. Tujuannya tentu saja untuk refresh :). Saya menganggapnya sebagai wujud penghargaan atas diri saya sendiri. Kalau bukan dimulai dari saya, lantas siapa lagi yang akan memulainya? :).
            Seperti di tahun-tahun sebelumnya, hadiah ini sebenarnya tidak spesifik saya maksudkan sebagai kado ulang tahun saya. Hadiah ini hanyalah hadiah tahunan biasa saja. Hadiah tahunan yang telah menjadi tradisi sejak saya mulai bekerja. Tradisi yang terjadi sejak saya mulai  berusaha mencukupi kebutuhan hidup saya sendiri. Hanya saja, hadiah yang saya persiapkan di tahun ini jatuhnya memang bertepatan dengan bulan kelahiran saya. Terlebih lagi, kalau biasanya saya hanya mempersiapkan satu hadiah saja, kali ini ada 2 hadiah yang siap saya eksekusi di bulan April nanti. Alhamdulillah ;).
             Hadiah pertama masih sama seperti hadiah yang saya persiapkan di tahun sebelumnya. Satu tiket konser sudah menunggu di depan mata :). Maklum, saya memang senang sekali menonton konser dari musisi favorit saya :). Untuk konser ini, saya bahkan rela melewatkan Java Jazz Festival yang digelar setiap tahunnya. Selain dikarenakan harga tiket yang cukup mahal untuk ukuran kantong saya, biaya transportasi tentunya juga akan sangat besar kalau saya harus 2x menonton acara musik dalam waktu yang berdekatan. Karenanya, saya harus merelakan salah satunya. Biarlah, saya absen dulu di Java jazz Festival tahun depan dan lebih memilih untuk melihat konser lain yang belum tentu  bisa saya saksikan lagi di lain waktu.

 This is what I have prepared for my birthday gift ;)

            Hadiah kedua yang saya persiapkan juga tak kalah istimewa :). Saya berencana berlibur bersama kedua sahabat baik saya. Sahabat yang kurang lebih sudah 8 tahun saya kenal :). Liburan ini nantinya cukup singkat. Kami hanya akan pergi dalam hitungan beberapa hari saja (di bulan April). Akan tetapi, ceritanya tentu saja akan lain bila kita bepergian dengan orang-orang yang berarti bagi kita :).
            Saya berharap bulan April nanti semuanya bisa berjalan sesuai rencana dan menyenangkan. Semoga, semua hadiah yang sudah saya persiapkan ini dapat menjadi pemicu bagi saya agar selalu mengusahakan yang terbaik dalam hidup, sehingga hidup pun juga akan memberikan yang terbaik kepada saya. Amin :). 

Having A Life Journey With Your Bestfriends Is Totally Cool! :)


                Benarlah apa yang dikatakan orang bahwa memiliki teman baik di dunia ini adalah sebuah berkah, dan saya sangat bersyukur atas semua itu. Dalam hidup ini, saya memiliki banyak teman yang seru dan menyenangkan! Saya pun begitu menyayangi mereka :). Dengan keunikan yang dibawanya masing-masing, mereka telah melengkapi warna-warni di kehidupan saya selama ini. Saya merasa bahagia mereka telah menjadi bagian dari hidup saya.


my uniquely team :)

        Satu cerita yang semakin membuat saya bersyukur adalah ketika saya tengah mengalami sakit beberapa hari belakangan ini. Semua teman memberikan perhatian dengan caranya masing-masing. Satu hal yang tampak sepele, tetapi tidak bagi saya. Rasa terima kasih yang sangat besar jelaslah belum sebanding dengan semua itu.


My Lovely NgecemezZz Group :)

            Berawal ketika saya harus mendadak ke dokter beberapa hari yang lalu, salah satu teman senantiasa mengantar dan menemani saya ke Rumah Sakit. Sementara, beberapa teman lain yang mengetahui kabar ini juga kerapkali menanyakan hasil pemeriksaan saya. Padahal, sakit saya bukan tergolong sakit yang parah. Hanya saja, memang dibutuhkan istirahat untuk beberapa hari agar pemulihannya bisa segera berhasil :).


One of Our Sharing Session :)

            Di tengah sakit yang saya rasakan tersebut, telepon, SMS, messenger dan kunjungan yang saya terima adalah sebuah hiburan sekaligus semangat bagi saya. Pertanyaan tentang kondisi saya saat itu lebih terdengar seperti kabar baik yang seringkali mereka berikan kepada saya. Saya selalu tersenyum membacanya. Dalam hati saya juga bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan gift sebagus ini dalam hidup, selain keluarga yang luar biasa tentunya :).


Me and My Best Good Friends

            Mereka semua adalah teman yang menyenangkan ketika tiba waktunya bersenang-senang, teman yang menghibur kala sedih melanda, teman berbagi bila ingin melihat hal dari kedua sisi, teman yang mendengar saat berkeluh kesah dan teman sebenar-benar teman bagi saya :).
            Terima kasih kawan untuk segala kebaikan :). Kan kuingat selalu bahwa setiap teman sungguh berarti :). Setiap teman membantu menampilkan sebuah dunia dalam diri kita masing-masing. Dan yang terpenting adalah...friendship is a ship that carries you through the storm (idiom). So, lets love all of our friends! Love them! Love whoever they are :).

29 November 2010

Me and The Journey of Java Jazz Festival

                 Sebagai seorang penikmat musik, tentu saja saya tak ingin melewatkan beberapa konser spektakular yang digelar di negeri ini. Salah satunya adalah Java Jazz Festival (JJF) yang merupakan pagelaran jazz tahunan terbesar di Indonesia. Festival jazz yang menghadirkan banyak musisi baik dari dalam maupun luar negeri ini menurut saya telah sukses menjadi ikon pesta musik jazz terbesar di Indonesia. Motto “Bringing the World to Indonesia” yang dibawanya juga berhasil dipresentasikan melalui penyelenggaraannya.
            Saya memang tidak mengikuti pagelaran ini dari edisi pertamanya di tahun 2005. Dari enam kali pertunjukan, saya baru menonton 2 edisi saja, yaitu edisi ke-5 & ke-6 dengan special show Bryan McKnight dan Tony Braxton. Namun, sejak pertama kali saya  ikut ambil bagian menjadi penonton, saya benar-benar merasa impressed dan kagum dengan acara ini. Atmosfirnya luar biasa keren, artisnya beraneka ragam dengan performance yang mayoritas dapat dikatakan excellent, antusiasme penontonnya pun juga tak kalah menarik. Four thumbs up untuk Peter F. Gontha dan crew yang telah menjadi penggagas ajang musik jazz tahunan terbesar di Indonesia ini. Sejak saat itulah saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk tidak melewatkan pagelaran yang sama di tahun-tahun berikutnya. Saya berjanji akan kembali menyempatkan menonton pertunjukan musik jazz yang dihelat secara akbar ini meski tak lagi berdomisili di Jakarta seperti saat saya masih mengikuti tahun ke-5 nya.

Eric Bennet on the stage

            Masih jelas teringat akan kesan yang saya dapatkan dari menikmati Java Jazz Festival ini. Di JJF tahun ke-5, saya benar-benar dipuaskan dengan suguhan dari si mas Bryan Mcknight :). Bukan hanya suaranya yang mampu menghipnotis ribuan orang yang menyaksikan performancenya kala itu, tetapi juga narasi-narasi yang disampaikan di sela-sela lagu membuat penonton semakin meleleh menyaksikan pertunjukan tersebut, termasuk saya sendiri tentunya :). Bahkan, Afghan (yang kebetulan berdiri di samping saya saat itu) pun ikut terpukau menikmati sajian lagu-lagu yang dibawakan oleh Bryan McKnight. Nah, kalau penyanyi profesional sekelas Afghan saja terpukau, apalagi saya yang tulen hanya  menjadi penikmat musik ini. Saya cuma bisa melongo dan melongo. Bryan Mcknight had rock that nite! It was damn cool and...super!
            Berbeda dengan JJF berikutnya di tahun 2010. Di tahun ke-6 nya ini, pelaksanaan JJF sedikit berbeda. Pagelaran musik jazz yang sebelum-sebelumnya selalu diadakan di JCC Senayan, kini beralih ke Jakarta International Expo (JIE) Kemayoran, Jakarta. Tempatnya memang lebih jauh, akan tetapi venue yang dipersiapkan jauh lebih besar dan 3x lebih luas dari sebelumnya. Hanya saja, panitia tampaknya kurang memiliki persiapan yang maksimal dalam menangani festival di tempat yang lebih besar kali ini.
            Hal ini terlihat dari kacaunya antrian saat saya bersiap-siap menyaksikan special show Tony Braxton saat itu. Terdapat 2 antrian dimana antrian group pertama berada di depan pintu venue pertunjukannya, sedangkan antrian grup kedua masih berada di pintu luar gedung pertunjukan. Tak ayal, banyak penonton diluar yang merasa kesal, berteriak-teriak & melakukan protes karena merasa diperlakukan tidak adil. Bersyukurlah saya sudah berada di antrian depan pintu venue, dan begitu masuk ruangan pun saya berhasil menempatkan diri saya di barisan pertama depan stage. Yippiiiiiieeeeee... :) .

Tony Braxton, "Unbreak My Heart"

            Belum selesai kekesalan penonton JJF yang disebabkan oleh adanya 2 antrian terpisah. Kali ini saya sendiri pun ikut dikecewakan karena masalah teknis. Sound check sepertinya tak dilakukan secara optimal. Kendala teknis di audio pun pada akhirnya tak dapat dielakkan sehingga suara Tony Braxton sempat tidak dapat didengar oleh penonton. Padahal, bagi saya audio adalah salah satu jantung dari sebuah konser. Tidaklah berlebihan bila kemudian penonton (yang tentunya juga saya!) merasa sedikit kecewa dengan festival yang digelar di tahun ke-6 nya tersebut.
            Beruntung kekecewaan ini tidak sampai berada di level puncak karena penampilan sebelumnya bagi saya sungguh sangat memukau & menghibur. Saya benar-benar takjub menyaksikan penampilan Diane Warren show. All artist-nya luar biasa berbakat dan luar biasa keren. Lagu-lagu yang dibawakan oleh Duo Voci sungguh sangat-sangat bagus, belum lagi disusul dengan Sandhy Sondhoro yang belakangan semakin diakui dan diterima saja kemampuannya di seni tarik suara ini. Fyi, pada saat itu Sandhy Sondhoro belum-lah setenar seperti saat ini.
            Tidak hanya berhenti sampai di Sondhoro, pada Diane Warren show tersebut juga  tampil Dira Sugandhi, musisi indonesia yang suaranya membuat saya benar-benar speechless. Lengkingannya....alamaaaaaak! Saya sampai nggak ngerti harus berkomentar apalagi :) . Eits, di festival ini Dira juga belum seterkenal sekarang :) . Dira sungguh luar biasa! Just keep up your good work, Dira! :) .
            Belum cukup sampai disitu, saya pun masih juga dikejutkan dengan kemunculan Eric Benet yang menyanyikan lagu lawas milik Chicago, “Look Away”. Eric sukses membawa emosi penonton dengan lagu yang dibawakannya. Belum lagi, pakaian yang dikenakan pun lebih ringan dari penampilan di hari sebelumnya. Eric terlihat lebih casual. Hal ini membuat performa Eric semakin asik untuk dinikmati.
            Pada akhirnya, Diane Warren Show ini ditutup dengan kolaborasi dari seluruh artis yang telah tampil sebelumnya (duo voci, Sandhy Sandhoro, Dira Sugandhi dan Eric Benet) dengan membawakan rhytm of the night yang disuguhkan dengan energi yang luar biasa hebat. Pertunjukan pun semakin seru, atraktif dan tentu saja menghibur. Show ini pun mencapai klimaksnya. Saya begitu puas menyaksikan. Standing applause juga tak henti-hentinya diberikan oleh penonton manakala mereka menutup atraksinya. Tidak terkecuali oleh RI 1 yang saat itu hadir dan didampingi secara langsung oleh lakon utama dibalik JJF ini, Bapak Peter F. Gontha.


   Me, while waiting :)

            JJF benar-benar sebuah tontonan seni yang memukau dan menghibur. Sebuah suguhan extravaganza yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Inilah alasan mengapa saya selalu ingin melihatnya lagi & lagi. Begitu juga untuk JJF tahun ini yang akan diselenggarakan di bulan maret 2011. Saya pun sudah mempersiapkan diri untuk kembali menikmatinya. Sayang, beberapa hari yang lalu saya terlambat membeli tiket early bird-nya. Akan tetapi saya berharap masih memiliki kesempatan untuk membeli tiket early bird di hari-hari berikutnya. Maklum, beda harganya lumayan jauh :) . Terlebih lagi untuk saya yang masih harus menyiapkan biaya transport di luar biaya tiket itu sendiri :) . Meskipun demikian, JJF memang sebuah tontonan yang layak untuk diikuti. So, I'll go for it and enjoy that festival! See ya there... :) .